Blogger Widgets

music

Selasa, 05 Mei 2015

Makalah Laporan Hasil Observasi Psikodiagnostik

LAPORAN HASIL OBSERVASI TK BINA INSANI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “psikodiagnostik”
Dosen pengampu Imron Muzakki M.Psi.





Di susun oleh:
Nadia Nufida Aflaha    (933400613)

JURUSAN USHULUDDIN PROGRAM PSIKOLOGI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
KEDIRI
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Taman Kanak-Kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar. Tujuan program kegiatan belajar di TK adalah untuk membantu perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak sangat penting karena saat anak belajar di TK pertumbuhan anak sedang dalam masa ke emasan (golden age). Perkembangan belajar ini sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan yang sedang di alami anak. Bagaimanapun, keberadaan TK merupakan sebuah Taman tempat anak bermain dan belajar, tempat anak-anak usia TK belajar menyesuaikan diri dengan beberapa hal sebelum mereka masuk sekolah formal.
Belajar dan bermain di TK, akan mempermudah anak untuk belajar mengembangkan keterampilan sosial dan kerjasama, karena saat anak melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) anak dituntut memiliki keterampilan sosial dan kerjasama yang baik, karena intensitas berinteraksi lebih banyak dan harus ditanamkan dan diajarkan pada masa prasekolah. Sekolah ini tidak akan memberikan beban yang terlalu besar pada anak, karena pada dasarnya disekolah TK ini anak akan lebih banyak bermain. Tentu tidak hanya bermain tapi disertai dengan belajar berbagai hal juga.

B.  Tujuan Observasi
Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengetahui tipe bermain anak TK Bina Insani menurut teori Mildred Parten.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Teori Tipe Bermain Mldred Parten
Parten mengamati kegiatan bermain sebagai sarana sosialisai anak, ia menemukan enam bentuk interaksi antar anak yang terjadi pada saat mereka bermain yang mencerminkan adanya interaksi sosial mulai dari bermain sendiri sampai dengan bermain bersama. Adapun tahapan bermain yang menggambarkan tingkat perkembangan sosial anak adalah:
1.    Unoccupied Play
Pada tahap Unoccupied Play anak tidak terlibat dalam kegiatan bermain, tetapi hanya datang mengamati kegiatan anak lain atau kejadian-kejadian di sekitarnya yang menarik perhatiannya. Apabila tidak ada kejadian yang menarik perhatiannya anak tersebut akan bermain sendiri, menyibukkan diri dengan cara bermain dengan tubuhnya sendiri, jalan berkeliling tanpa tujuan jelas, naik turun tangga, mengikuti orang lain dan sebagainya.
2.    Solitary Play
Solitary Play atau bermain sendiri yang bersifat egosentris tanpa memperhatikan anak lain atau kehadiran orang lain yang terpenting anak bermain sendiri dengan berbagai alat yang dimilikinya. Dalam bermain tidak ada interaksi dengan teman atau orang lain, terpusat pada diri sendiri dan kegiatannya sendiri, menerima kehadiran orang lain apabila dirasa mengganggu permainannya seperti ada yang mengambil alat mainannya atau mengganggu konsentrasinya.
3.    Onlooker Play
Onlooker Play (pengamat) yaitu kegiatan bermain dengan mengamati kegiatan bermain anak-anak lain dan tampak ada minat untuk untuk mengikuti kegiatan bermain anak-anak lain tersebut. Kegiatan ini tampak pada anak-anak berusia sekitar dua tahun atau anak-anak yang baru kenal dengan lingkungan bermainnya, anak-anak tersebut sebatas bertanya, bercakap, dan tidak dalam bermain. Mereka berdiri di lingkungan anak bermain untuk melihat, mengamati, mendengarkan anak lain bermain.
4.    Paralel Play
Paralel Play atau bermain parallel yaitu ana-anak melakukan kegiatan bermain secara berdampingan, atau berdekatan satu dengan lainnya tetapi tetap bermain sendiri-sendiri dengan peralatannya sendiri pula tidak memperhitungkan teman bermain di sampingnya atau di sekitarnya. Mereka bermain pada tempat dan waktu yang sama tetapi belum ada interaksi sosial yang nyata.
5.    Assosiative Play
Assosiative Play atau bermain asosiatif ditandai dengan adanya kegiatan bermain bersama dalam tempat, waktu, dan jenis permainan yang sama, tetapi belum terjadi suatu bentuk kerja sama yang nyata, hanya sebatas pada percakapan, saling meminjam alat (gunting, kuas, cat, balok-balok, dsb), saling komentar tanpa memberi saran atau masukan bahkan diskusi untuk suatu kegeiatan permainan tersebut. Kegiatan bermain ini banyak dilihat pada pendidikan prasekolah atau taman kanak-kanak. Kesempatan untuk tumbuhnya bermaib kerja sama tergantung intensitas kesempatan bermain yang dilakukan oleh anak.
6.    Cooperative Play
Cooperative Play atau bermain bersama ditandai dengan adanya interaksi antar anak untuk bekerjasama, berbagi tugas, berbagi peran, dalam keterlibatan anak dalam suatu kegiatan bermain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Bermain merupakan proyek bersama yang harus diselesaikan secara bersama-sama pula. Sebagai contoh bermain sepak bola dengan aturan sederhana atau permainan tradisional yang popular, anak akan membagi tugas untuk dapat melakukan permainan dengan baik dan kalau perlu dapat memenangkan permainan tersebut.

B.  Metode Observasi
Observasi ini menggunakan metode observasi non partisipan karena observer tidak ikut terlibat dalam kegiatan yang di observasi. Observer hanya melihat dan meneliti bagaimana tipe bermain anak tersebut.



C.  Hasil Observasi
1.      Biodata
Ø  Biodata observer
Nama                : NADIA NUFIDA AFLAHA
NIM                 : 933400613
Prodi                 : Psikologi Islam
Ø  Biodata observen
Nama                            : ALVIN NAJMI DHIYA RAMADHAN
Tempat tanggal lahir     : Kediri, 16 Agustus 2010
Jenis kelamin                : laki-laki
Kelas                            : TK A
2.      Pelaksanaan observasi
Hari                  : Rabu
Tanggal             : 01 April 2015
Tempat             : TK Bina Insani
Waktu               : Pelajaran 08.30-10.00
                           Istirahat 10.00-10.30
3.      Hasil
Tipe bermain Alvin unoccupied play dan solitary play, karena ia hanya mengamati kejadian disekelilingnya tanpa terlibat dalam aktivitas itu dan ia juga lebih sering asik dengan permainannya sendiri. Tidak banyak berinteraksi dengan teman bermain lainnya, suka keluar masuk kelas saat pelajaran berlangsung, hanya mengikuti pelajaran dan aktivitas di dalam kelas sesuai keinginannya.
Avin tergolong anak yang hiperaktif, walaupun tidak banyak berinteraksi dengan teman bermain lainnya dan selalu asik dengan kegiatannya sendiri



BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari hasil observasi diatas dapat disimpulkan bahwa ada bemacam-macam tipe bermain anak, yaitu :
§  Unoccupied play
§  Solitary play
§  Onlooker play
§  Parallel play
§  Associative play
§  Cooperative play
Anak yang menjadi observen disini memiliki tipe bermain unoccupied play dan solitary play. Ia lebih suka mengamati kejadian di sekelilingna asik dengan aktivitasnya sendiri daripada bermain bersama teman-teman sebayanya.

B.  Dokumentasi







Rabu, 22 April 2015

Psikologi Pendidikan

KECEMASAN MENGHADAPI PENSIUN

Definisi kecemasan[1]
Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Definisi pensiun[2]
Pensiun adalah masa ketika seseorang diberhentikan dari pekerjaannya sesuai dengan batas usia pensiun yang telah ditetapkan dalam aturan pensiun.

Faktor yang mempengaruhi kecemasan menghadapi pensiun[3]
Kepuasan kerja dan pekerjaan
Datangnya masa pensiun akan menyebabkan individu merasa kehilangan pekerjaan karena pekerjaan tersebu dapat memberikan kepuasan bagi individu.
b.      Usia
Banyak orang cemas menghadapi masa tua karena asumsinya jika sudah tua maka fisik akan makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa, penampilan makin tidak menarik dan makin banyak hambatan lain yang membuat hidup makin terbatas. Selain itu, usia tua juga berarti akan kehilangan pekerjaan karena individu akan mengalami masa pensiun.
c.       Kesehatan
Kesehatan mental dan fisik merupakan prakondisi yang mendukung keberhasilan individu beradaptasi terhadap perubahan hidup yang disebabkan oleh pensiun. Hal ini masih ditambah persepsi individu tersebut terhadap kondisi fisiknya. Jika individu menganggap kondisi fisik atau penyakit yang dideritanya sebagai hambatan besar dan bersikap pesimistik terhadap hidup, maka ia akan mengalami masa pensiun dengan penuh kesukaran.
d.      Persepsi individu tentang bagaimana ia akan menyesuaikan diri dengan masa pensiunnya
 Adanya persepsi-persepsi negatif yang kemudian mendatangkan kecemasan pada individu dalam menghadapi masa pensiunnya.
e.       Status sosial sebelum pensiun
Bagi individu yang pada saat masih bekerja mempunyai status sosial tertentu maka pada masa pensiun tiba semua atribut dan fasilitas yang menempel pada dirinya akan hilang. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian orang terlebih bagi individu yang memiliki pikiran negatif terhadap masa pensiun

Komponen Kecemasan[4]
·         Secara kogniti pikiran)
Individu terus mengkhawatirkan segala macam masalah yang mungkin terjadi dan sulit sekali untuk berkonsentrasi atau mengambil keputusan, akan menimbulkan kekhawatiran ang lebih lanjut, dan ia juga akan mengalami kesulitan tidur.
·         Secara motorik (gerak tubuh)
Terjadi ketika seseorang menampilkan gerakan yang tidak beraturan.
·         Secara somatic (dalam reaksi fisik dan biologis)
Dapat berupa gangguan pada anggota tubuh.
·         Secara afektif (perasaan)

Teori[5]
Teori kecemasan berdasarkan psikoanalisa klasik
Kecemasan Menurut Freud Freud membagi kecemasan menjadi tiga, yaitu:
a.       Kecemasan Realitas atau Objektif (Reality or Objective Anxiety)
Suatu kecemasan yang bersumber dari adanya ketakutan terhadap bahaya yang mengancam di dunia nyata. Kecemasan seperti ini misalnya ketakutan terhadap kebakaran, angin tornado, gempa bumi, atau binatang buas. Kecemasan ini menuntun kita untuk berperilaku bagaimana menghadapi bahaya. Tidak jarang ketakutan yang bersumber pada realitas ini menjadi ekstrim. Seseorang dapat menjadi sangat takut untuk keluar rumah karena takut terjadi kecelakaan pada dirinya atau takut menyalakan korek api karena takut terjadi kebakaran.3,4
b.      Kecemasan Neurosis (Neurotic Anxiety)
Kecemasan ini mempunyai dasar pada masa kecil, pada konflik antara pemuasan instingtual dan realitas. Pada masa kecil, terkadang beberapa kali seorang anak mengalami hukuman dari orang tua akibat pemenuhan kebutuhan id yang implusif Terutama sekali yang berhubungan dengan pemenuhan insting seksual atau agresif. Anak biasanya dihukum karena secara berlebihan mengekspresikan impuls seksual atau agresifnya itu. Kecemasan atau ketakutan untuk itu berkembang karena adanya harapan untuk memuaskan impuls Id tertentu. Kecemasan neurotik yang muncul adalah ketakutan akan terkena hukuman karena memperlihatkan perilaku impulsif yang didominasi oleh Id. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketakutan terjadi bukan karena ketakutan terhadap insting tersebut tapi merupakan ketakutan atas apa yang akan terjadi bila insting tersebut dipuaskan. Konflik yang terjadi adalah di antara Id dan Ego yang kita ketahui mempunyai dasar dalam realitas.3,4
c.       Kecemasan Moral (Moral Anxiety)
Kecemasan ini merupakan hasil dari konflik antara Id dan superego. Secara dasar merupakan ketakutan akan suara hati individu sendiri. Ketika individu termotivasi untuk mengekspresikan impuls instingtual yang berlawanan dengan nilai moral yang termaksud dalam superego individu itu maka ia akan merasa malu atau bersalah. Pada kehidupan sehari-hari ia akan menemukan dirinya sebagai “conscience stricken”. Kecemasan moral menjelaskan bagaimana berkembangnya superego. Biasanya individu dengan kata hati yang kuat dan puritan akan mengalami konfllik yang lebih hebat daripada individu yang mempunyai kondisi toleransi moral yang lebih longgar. Seperti kecemasan neurosis, kecemasan moral juga mempunyai dasar dalam kehidupan nyata. Anak-anak akan dihukum bila melanggar aturan yang ditetapkan orang tua mereka. Orang dewasa juga akan mendapatkan hukuman jika melanggar norma yang ada di masyarakat. Rasa malu dan perasaan bersalah menyertai kecemasan moral. Dapat dikatakan bahwa yang menyebabkan kecemasan adalah kata hati individu itu sendiri. Freud mengatakan bahwa superego dapat memberikan balasan yang setimpal karena pelanggaran terhadap aturan moral.3,4 Apapun tipenya, kecemasan merupakan suatu tanda peringatan kepada individu. Hal ini menyebabkan tekanan pada individu dan menjadi dorongan pada individu termotivasi untuk memuaskan. Tekanan ini harus dikurangi. Kecemasan memberikan peringatan kepada individu bahwa ego sedang dalam ancaman dan oleh karena itu apabila tidak ada tindakan maka ego akan terbuang secara keseluruhan. Ada berbagai cara ego melindungi dan mempertahankan dirinya. Individu akan mencoba lari dari situasi yang mengancam serta berusaha untuk membatasi kebutuhan impuls yang merupakan sumber bahaya. Individu juga dapat mengikuti kata hatinya. Atau jika tidak ada teknik rasional yang bekerja, individu dapat memakai mekanisme pertahanan (defence mechanism) yang non-rasional untuk mempertahankan ego

Sumber Kecemasan[6]
·         Evaluated situation
Adanya situasi yang mengancam secara kognitif sehnga ancaman ini dapat menimbulkan kecemasan.
·         Perception of situation
Munculnya berbagai persepsi an situasi tersebut, situasi mengancam akan diberi penilaian oleh individu, biasanya penilaian ini mempengaruhi sikap dan pengalaman individu, yang diserai dengan adanya kecurigaan akan kemungkinan terjadi hal-hal yang buruk, dan kewaspadaan terhadap situasi tertentu.
·         Axiety state of reaction
Individu menganggap bahwa adanya situasi berbahaya maka kecemasannya akan timbul.
·         Cognitive reaprasial follows
Individu kemudian menilai kembali persepsi mengenai masa pensiun tesebut, hal ini dilakukan dengan pemilihan bentuk pertahanan diri yan sesuai dengan meningkatnya aktivias kognisi.
·         Coping
Individu mencai jalan keluar dengan menerapkan salah satu bentuk pertahanan diri yang sesuai seperti menggunakan persepsi, proyeksi, atau dapat juga dengan cara rasionalisasi.




[1] Anita, Ika Wahu, Jurnal Pengaruh Kecerdasan Matematika (Mathematics Anxiet) Terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa, Bandung, Junal, hal 2
[2] Dewi, Artika Kumala, Jurnal Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun pada Pegawai Negeri Sipil, Surakarta, jurnal, hal 4
[3] Paradono, Ganang Septiadi dan Santi Esterlita Purnamasari, Jurnal Hubungan Antara Penyesuaian Diri dengan Kecemasan Dalam Menghadapi Masalah Pensiun pada Pegawai Negeri Sipil di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, hal 4
[4] Imama, Hazmi, Jurnal HUbungan antara Kecerdasan Emosi dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun, Jakarta, hal 17
[5] Andri dan Yeni Dewi P, Jurnal Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik dan Berbagai Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan, Jakarta, hal 235
[6] Imama, Hazmi, Jurnal HUbungan antara Kecerdasan Emosi dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun, Jakarta, hal 21

Jumat, 13 Maret 2015

Makalah Psikologi Pendidikan

KECEMASAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “psikologi pendidikan”
Dosen pengampu M. Irfan Burhani, M.Psi



 



Di susun oleh:
Nadia Nufida Aflaha    (933400613)

JURUSAN USHULUDDIN PROGRAM PSIKOLOGI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
KEDIRI
2015



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stres kadang disertai dengan muculnya kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Kecemasan dapat muncul pada situasi tertentu seperti berbicara didepan umum, tekanan pekerjaan yang tinggi, menghadapi ujian. Situasi-situasi tersebut dapat memicu munculnya kecemasan bahkan rasa takut. Namun, gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme tubuh.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian kecemasan?
2.      Apakah teori kecemasan?
3.      Apakah factor penyebab kecemasan?
4.      Bagaimana gejala kecemasan?
5.      Apakah macam-macam kecemasan?
6.      Bagaiman dampak kecemasan?
7.      Bagaiman cara mengatasi kecemasan?

C.  Tujuan
1.      Mengetahui pengertian kecemasan
2.      Mengetahui teori kecemasan
3.      Mengeahui factor penyebab kecemasan
4.      Mengetahui gejala kecemasan
5.      Mengetahui macam-macam kecemasan
6.      Mengeahui dampak kecemasan
7.      Mengetahui cara mengatasi kecemasan


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Kecemasan
Menurut Hall dan Lindzey (2011), kecemasan adalah ketegangan yang dihasilkan dari ancaman terhadap keamanan, baik yang nyata maupun imajinasi biasa[1]. Kecemasan menurut Freud (1933/1964) adalah suatu keadaan perasaan efektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Keadaan yang tidak menyenangkan itu sering kabur dan sulit menunjuk dengan, tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan. Dilihat dari pendekatan belajar pengertian kecemasan adalah suatu respons ketakutan itu diasosiasikan dengan suatu stimulus yang seharusnya tidak menimbulkan kecemasan.[2]
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatian yang samar disertai respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi yang berbahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan dan memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman.[3]

B.  Teori Tentang Kecemasan
Berbagai teori dikembangkan untuk menjelaskan tentang faktor kecemasan, yaitu:[4]
    1.      Teori Psikoanalitik
Dalam pandangan psikoanalitik ansietas adalah konflik emosional yang tejadi antara dua elemen kepribadian–id dan superego. Id memiliki dorongan insting dan impuls primitive seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang  dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau aku, berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah menginngatkan ego bahwa ada bahaya.
2.      Teori Interpersonal
Menurut pandangan interpersonal  ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan  yang menimbulkan kelemahan fisik. Orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
3.      Teori Perilaku
Menurut pandangan perilaku ansietas merupakan produk frustasi  yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku yang lain menganggap ansietas sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari dari kepedihan. Pakar tentang pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa dengan kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.
4.      Teori Keluarga
Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi.
5.      Teori Biologis
Kajian biologis menunjukkan bahwa  otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepines. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas. Penghambat asam aminobutirik-gamma neuroregulator (GABA) juga mungkn memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas, sebagaimana halnya dengan endorphin. Selain itu telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai faktor predisposisi  terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor.

C.  Faktor Penyebab Kecemasan
faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan, yaitu:[5]
a.    Patofisiologis, yaitu setiap faktor yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia akan makanan, air, kenyamanan dan keamanan.
b.    Situasional (orang dan lingkungan). Berhubungan dengan ancaman konsep dii terhadap perubahan status, adanya kegagalan, kehilangan benda yang dimiliki dan kurang penghargaan dari orang lain.
c.    Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat karena kematian, perceraian, tekanan budaa, perpindahan, dan adanya perpisahan sementara atau permanen.
d.   Berhubungan dengan ancaman integritas biologi, yaitu: penyakit, terkena penyakit mendadak, sekarat, dan penanganan medis terhadap sakit,
e.    Berhubungan dengan perubahan dalam lingkungan, misalnya: pencemaran lingkungan, pensiun, dan bahaya terhadap keamanan.
f.     Berhubungan dengan oerubahan status social ekonomi, misalnya pengangguran, pekerjaan baru, dan promosi jabatan.
g.    Berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu.

D.  Gejala Kecemasan
Cemas mempunyai penampilan atau gejala yang bermacam-macam antara lain:[6]
a.        Gejala jasmaniah (fisiologis) yaitu: ujung-ujung anggota dingin (kaki dan tangan), keringan berpercikan, gangguan pencernaan, cepatnya pukulan jantung, tidur terganggu, kepala pusing, hilang nafsu makan dan pernapasan terganggu.
b.      Gejala kejiwaan antara lain: sangat takut, serasa akan terjadi bahaya atau penyakit, tidak mampu memusatkan perhatia, selalu merasa akan terjadi kesuraman, kelemahan dan kemurungan, hilang kepercayaan dan ketenangan, dan ingin lari dari menghadapi suasana kehidupan.

E.  Macam-Macam Kecemasan
1.      Menurut Sigmund Freud, kecemasan dibagi menjadi tiga macam, yakni :
a.       Kecemasan objektif atau Kenyataan.
Kecemasan obyektif adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada di dekat dengan benda- benda tertentu atau keadaan tertentu dari lingkungannya.
b.      Kecemasan Neurotis (saraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah.
Sigmund freud sendiri membagi kecemasan ini menjadi 3 bagian yaitu :
·         Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan.
·         Bentuk ketakutan yang tegang dan irasional (phobia).
·         Reaksi gugup atau setengah gugup, reaksi ini munculnya secara tiba-tiba tanpa adanya provokasi yang tegas.
c.       Kecemasan Moral
Kecemasan moral disebabkan karena pribadi seseorang . Tiap pribadi memiliki bermacam macam emosi antar lain: iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, dan lain lain.
2.      Reaksi yang timbul karena kecemasan.
·      Reaksi emosional, yaitu komponen kecemasan yang berkaitan dengan persepsi individu terhadap pengaruh psikologis dari kecemasan, seperti perasaan keprihatinan, ketegangan, sedih, mencela diri sendiri atau orang lain.
·      Reaksi kognitif yaitu ketakutan dan kekhawatiran yang berpengaruh terhadap kemampuan berpikir jernih sehingga mengganggu dalam memecahkan masalah dan mengatasi tuntutan lingkunan dan sekitarnya.
·      Reaksi fisiologis, yaitu: reaksi yang ditampilkan oleh tubuh terhadap sumber ketakutan dan kekhawatiran. Reaksi ini berkaitan dengan sistem syaraf yang mengendalikan berbagai otot dan kelenjar tubuh sehingga timbul reaksi dalam bentuk jantung berdetak lebih keras, nafas bergerak lebih cepat, tekanan darah meningkat.

F.   Dampak Kecemasan
Kecemasan akan dirasakan oleh semua orang, terutama jika ada tekanan perasaan ataupun tekanan jiwa.[7] Kecemasan biasanya dapat menyebabkan dua akibat, yaitu :
1.      Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara normal atau menyesuaikan diri pada situasi.
2.      Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya dan mengambil tindakan pencegahan yang mencukupi.

G. Cara Mengendalikan Kecemasan
Dalam upaya mengendalikan kecemasan (anxiety) dan setres ada beberapa cara, yang diantaranya yaitu:
1.    Strategi Relaksasi
Keadaan relaks adala keadaan saat seseorang berada dalam kondisi emosi yang tenang yaitu tidak bergelora atau tegang.
2.    Strategi Kognitif
Strategi kognitif didasari oleh pendekatan kognitif yang menekankan bahwa pikiran atau proses berpikir merupakan sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang.
3.    Tekini-teknik peredaan ketegangan dan mekanisme pertahanan diri






BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons autonom (sumber sering kali tidak diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi yang berbahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan an meperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman. Teori kecemasan:
1.    Teori psikoanalitik
2.    Teori interpersonal
3.    Teori keluarga
4.    Teori perilaku
5.    Teori biologis
Faktor kecemasan santara lain patofisiologis, situasional, berhubungan dengan kehilangan orang terdekat, berhubungan dngan ancaman integritas biologis, berhubungan dengan perubahan dalam lingkungannya, berhubungan dengan perubahan status social ekonomi, berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu.
Cara mengendalikan kecemasan dengan menggunakan atrategi relaksasi, strategi kognitif, dan teknik-teknik peredaan ketegangan dan mekanisme pertahanan diri.






DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, 2006, Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Jakarta: EGC
Fahmi, Muhammad, Kesehatan jiwa dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, jilid II, Jakarta: Bulan Bintang.
Internasional, Nanda, 2010, Diagnosis Keperawatan, Jakarta: EGC
Ramaiah, Savitri 2003, Kecemasan Bagaimana Mengatasi Akibatnya, Jakarta: Pustaka Populer Obor
Safaria, Triantoro dan Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi, Jakarta: Bumi Aksara
SemiumOFM, Yustinus, 2006, Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud, Yogyakarta: Kanisius
Stuart, G.W., dan Sundeen, S.J., 1998, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakata: EGC





[1]Trianto Safaria, Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (jakarta: Bumi Aksara) hal 49-50
[2] Yustinus semiumOFM, Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud (Yogyakarta: Kanisius, 2006) hal 87
[3] Nanda Internasional. 2010. Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta hal : 281              
[4]G.W. Stuart dan S.J. Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa (Jakarta: EGC, 1998) hal 177-181.
[5] Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta hal : 13
[6] Musthafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, jilid II (Jakarta: Bulan Bintang) hal 29
[7] Savitri Ramaiah, 2003, Kecemasan Bagaimana Mengatasi Akibatnya, Pustaka Populer Obor, Jakarta